|
|
Untitled Document
| DPRD Kab. Sumbawa - ARTIKEL |
| |
|
|
|
| PENDIDIKAN TINGGI KEBUTUHAN MASYARAKAT NTB |
| Penulis: DR. IWAN JAZADI, S.Pd, M.Ed [ 18/7/2009 ] |
Simpan dalam format pdf  |
| |
 | |
Perguruan tinggi perlu diberi ruang di daerah untuk muncul dalam rangka membangun SDM daerah sehingga ke depan akan terjadi peningkatan jumlah, diversifikasi dan mutu SDM yang sejalan dengan kebutuhan pembangunan daerah dan permintaan nasional dan internasional. Pertumbuhan perguruan tinggi di daerah tidak sepantasnya dibatasi atau dipersulit. Kita sepantasnya memberikan penghargaan luar biasa kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang KH. M. Zainul Majdi, MA yang memiliki komitmen luar biasa terhadap pendidikan tinggi dengan menyiapkan beasiswa kepada hampir 3.000 mahasiswa S1, S2, dan S3 dan memberikan hibah kepada 58 PTS se-NTB mulai tahun 2009 ini dengan menjunjung tinggi prinsip keadilan dadn proporsionalitas
Sanjungan yang sama juga pantas diterima oleh Bupati Sumbawa Barat, KH. Zulkifli Muhadli, MM atas kiprahnya menumbuhkembangkan berbagai perguruan tinggi di wilayahnya, tentu dengan dukungan anggaran yang memadai, termasuk yang sangat luar biasa adalah memberi bantuan keuangan kepada ”semua” mahasiswa pada setiap tahun anggaran.
Kedua pemimpin ini memang pantas dicontoh karena sesungguhnya mereka sedang menunjukkan cara baru memerintah dalam konteks indonesia. Dari beberapa referensi yang penulis geluti, perhatian kedua pemimpin ini terhadap pendidikan tinggi memiliki kesamaan dengan bagaimana para pemimpin negara dan negara-negara bagian Amerika Serikat sepanjang sejarahnya telah bekerja sehingga mewujudkan negasra tersebut sebagai adikuasa hingga saat ini, sebagaimana dipaparkan berikut ini.
Demokrasi Amerika telah memberi bentuk unik terhadap lembaga-lembaga pendidikannya, yang tersusun sebagai piramida terbalik yaitu besar dan berat di bagian pendidikan tinggi. Pemerintah Federal Amerika sejak pertengahan tahun 1800-an telah membuat kebijakan untuk memberikan bantuan kepada seluruh negara bagian (sama dengan Propinsi di Indonesia) untuk membangun perguruan tinggi, di samping usaha-usaha serupa yang di laksanakan oleh organisasi agama atau masyarakat. Dengan demikian, dalam waktu beberapa puluh tahun perguruan tinggi yang hadir di Amerika mencapai ribuan perguruan tinggi. Dalam perkembangan selanjutnya, terjadi proses seleksi alam, banyak perguruan tinggi bertahan dan berkembang pesat, namun ada pula yang harus gulung tikar.
Dalam perjalanan panjang peradaban Amerika, maka bermuncullah banyak perguruan tinggi bermutu, bukan hanya dalam bidang pendidikan dan pengajaran, tetapi juga riset dan pengembangan sains dan teknologi. Dalam konteks ini, perguruan tinggi memiliki peran sangat fundamental bagi kemunculan masyarakat adikuasa.
Pertama, sebagai lembaga yang menyiapkan keahlian dan komitmen kerja akademik tingkat tinggi, perguruan memerlukan input (calon mahasiswa) yang dapat bertahan dalam suasana pembelajaran yang penuh kesulitan dan tantangan. Namun, ternyata lulusan sokolah menengah yang siap menempuh pendidikan tinggi masih terbilang kurang di lihat dari jumlah dan tidak memiliki kesiapan untuk belajar sungguh-sungguh secara mandiri. Dengan kata lain, kondisi persekolahan dari tingkat prasekolah sampai tingkat menengah masih harus mendapat penanganan sehingga kelulusannya harus siap menempuh pendidikan tinggi atau masuk ke dunia kerja. Sebagai bentuk tanggung jawab dalam hal ini, maka perguruan tinggi di Amerika Serikat secara aktif berperan membina dan membantu sekolah dalam pengembangan proses dan produk pembelajaranya. Dengan sistem tersebut, sekolah-sekolah di kembangkan dengan ”dignity” (harga diri) para pakar dan perguruan tinggi yang membinanya, sementara pemerintah atau dinas lebih berperan sebagai fasilitator.
Kaedua, pendidikan di Amerika menyediakan berbagai program studi, sains, teknologi maupun seni, dari program diploma satu sampai doktoral.
Pergururan tinggi termasuk universitas negeri yang dibina oleh gubernur atau perguruan swasta yang di kembangkan sebagai investasi perusahaan kelas dunia, sampai ”perguruan tinggi masyarakat” (”community college”) di tingkat kecamatan atau desa. Semuanya berkembang dengan orientasi melahirkan Sumber Daya Manusia yang mampu bersaing di tingkat lokal, nasional dan global. Sebagai akibatnya, secara umum di setiap daerah di Paman Sam ini tidak terjadi kelangkaan SDM dalam bidang tertentu. Setiap orang usia produktif termasuk para pejabat bekerja sesuai keahliannya. Misalnya, pekerjaan bidang sosial tidak ditugaskan kepada lulusan pertenakan, bidang transportasi tidak di geluti oleh sarjana sosial, bidang kesehatan tidak di tangani orang berpendidikan hukum. Dengan demikian, setiap organisasi pemerintah maupun swasta atau masyarakat di pusat negara, negara bagian, ”district” (kabupaten), ”subdistrict” (kecamatan) dan ”county” (desa) dapat di jalankan dengan profesional dan penuh keahlian karena SDM unggul tersedia secara memadai. Dengan kata lain, perguruan tinggi memberi sumbangan bagi lahirnya penyelenggara pemerintah yang kompeten dan masyarakat sipil yang kuat.
Ketiga, keberadaan perguruan tinggi memberi dampak positif pada perkembangan makro ekonomi suatu wilayah. Dengan perkembangan peguruan tinggi bermutu yang menyebar di seluruh Amerika, kekuatan ekonomi negara tersebut menyebar secara merata di seluruh nagara bagian dan wilayahnya. Setiap keberadaan perguruan tinggi menghasilkan ”multiplier effects” dalam berbagai kegiatan ekonomi, sosial, budaya dan politik. Dalam konteks Indonesia, dapat di contohkan kota Yogyakarta dan Malang, atau konteks NTB, dapat diambil contoh Pancor (sebenarnya nama kelurahan) yang terkenal sebagai daerah pendidikan yang memberi imbas positif bagi tatanan kehidupan masyarakat pada umumnya.
Konsep pendidikan ”piramida terbalik ” Amerika dengan sistem desentralistik ternyata telah mengantarkan Amerika menjadi nagara adidaya hingga saat ini (dalam perspektif positif). Dengan SDM yang berkualitas tinggi, Amerika telah melejit mewakili dunia dari sisi ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Belajar dari konteks Amerika, seharusnya pemerintah pusat membuka peluang seluas-luasnya dan memfasilitasi lahirnya berbagai perguruan tinggi di daerah kabupaten/kota, toh juga seleksi alam akan menentukan perguruan tinggi mana yang akan ”survive” (bertahan) dan berkembang, dan yang akan gugur atau ”collapse”.
Pemprop sebagai wakil pemerintah pusat di daerah sepantasnya bergerak lebih maju lagi, dengan mengambil pesan sistematis dalam pembinaan dan fasilitasi hubungan lembaga masyarakat penyelenggara pendidikan tinggi dengan pemerintah pusat, terutama Mendiknas dan Dirjen Pendidikan Tinggi. Bapak Gubernur kiranya perlu memahamkan hal ini kepada seluruh jajaran pemprop dan kepala daerah kabupaten dan kota. Penulis yakin kalau pendidikan tinggi bermutu berkembang baik di NTB melalui dukungan sistemik gubernur dan bupati, indeks pembangunan manusia (IPM) NTB dalam waktu 5-10 tahun ke depan pasti mengalami perbaikan yang luar biasa.
|
|
| |
| |
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Artikel
|
|
|
|
|
|
| |
|
|
|
Kota: Jakarta, Indonesia
25 °C | Kelembaban: 89%
Kota: Surabaya, Indonesia
26 °C | Kelembaban: 92%
Kota: Sumbawa Besar, Indonesia
26 °C | Kelembaban: 87%
|
|